Riba

Riba secara bahasa berarti ziyadah (tambahan) atau nama' (berkembang). Secara istilah, riba berarti tambahan yang diambil pada harta atau modal yang dipinjamkan untuk jangka waktu tertentu. Praktek riba diharamkan oleh Allah sebagaimana firmannya dalam Al Qur'an Surat Al Baqarah ayat 275 yang artinya:

"Allah Swt. telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba."

Ancaman Allah bagi para pelaku riba juga disebutkan dalam Surat An Nisa ayat 161:

" Dan disebabkan karena mereka memakan riba, padahal sesungguhnya mereka telah dilarang daripadanya, dan karena mereka memakan harta orang dengan jalan yang batil. Kami telah menyediakan untuk orang-orang kafir di antara mereka itu siksa yang pedih."

Secara sederhana, riba dibagi menjadi 2 macam yaitu riba qardh atau riba dalam pinjaman dan riba al buyu' atau riba dalam jual beli.

Riba Qardh

Riba Qardh adalah riba yang terjadi pada transaksi utang piutang yang tidak memenuhi kriteria untung muncul bersama resiko (al ghunmu bil ghurmi) dan hasil usaha muncul bersama biaya (al kharraj bidh dhaman). Jadi untung dan hasil usaha diperoleh seiring berjalannya waktu, dalam hal ini waktu penangguhan pinjaman. Oleh karena itulah pemilik modal dipastikan selalu untung tanpa adanya resiko dan biaya yang dikeluarkan karena pinjaman yang diberikan nanti akan kembali utuh padanya dan masih mendapat tambahan dari modal pokok yang dipinjamkan. Hal inilah yang tidak diperbolehkan karena dalam bisnis selalu ada kemungkinan untung dan rugi. Sedangkan dalam kasus ini, ketidakpastian untung rugi tersebut berubah menjadi suatu kepastian, yaitu pasti untung.

Dalil yang melarang riba qardh adalah sebagai berikut:

"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepad Allah Swt. dan tinggalkanlah sisa riba yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman." (QS Al Baqarah : 278)

Riba qardh terjadi dalam setiap produk keuangan yang menggunakan transaksi pinjaman/kredit berbungan, baik yang dilakukan antarindividu atau lembaga keuangan. Di antara contohnya adalah sebagai berikut:

  1. Produk-produk perbankan konvensional seperti pembayaran bunga kredit dan pembayaran bunga deposito, tabungan, giro dan lain sebagainya.
  2. Produk-produk lemaga finance konvensional, seperti kredit pembiayaan kendaraan bermotor.
  3. Pengenaan bunga pada transaksi kartu kredit yang tidak dibayar penuh tagihannya.
  4. Dalam asuransi konvensional, dana premi yang dikelola di Lembaga Keuangan Konvensional dengan fasilitas pinjaman berbunga dan lain-lain.

Riba Buyu'

Riba buyu' adalah riba yang timbul akibat pertukaran barang sejenis yang berbeda kualitas atau kuantitasnya atau berbeda waktu penyerahannya (tidak tunai). Riba buyu' disebut juga riba fadhl, yaitu riba yang timbul akibat pertukaran barang sejenis yang tidak memenuhi kriteria sama kualitas (mitslan bi mitslin), sama kuantitasnya (sawa-an bi sawa-in) dan sama waktu penyerahanyya (yadan bi yadin). Jual beli atau pertukaran semacam ini mengandung gharar, yaitu ketidakadilan bagi kedua belah pihak akan nilai masing-masing barang yang dipertukarkan. ketidakpastian ini dapat menimbulkan tindakan zalim terhadap salah satu pihak, kedua pihak atau pihak-pihak lain.

Sebagai catatan yang dimaskud dengan transaksi jual beli dalam definisi ini adalah jual beli barang-barang ribawi, seperti mata uang atau uang. dalam perbankan, riba fadhl dapat ditemui dalam transaksi jual beli valuta asing yang tidak dilakukan dengan cara tunai (spot). Di antaranya transaksi forward, swap dan option dalam transaksi valuta asing, karena transaksi antara mata uang berbeda dengan penyerahan tidak tunai itu termsuk riba buyu'.

 

Sumber:

Karim, Adiwarman A., dan Oni Sahroni. 2015. Riba, Gharar dan Kaidah-kaidah Ekonomi Syariah Analisis Fikih dan Ekonomi. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *